Laman

Senin, 10 Oktober 2011

Makalah Filsafat Abad Pertengahan


Bab I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam sejarah filsafat ada saat-saat yang dianggap penting sebagai patokan suatu era ( zaman ), karena selain memiliki zaman atau khas, yaitu suatu aliran filsafat bisa meninggalkan pengaruh yang sangat bersejarah pada peradaban manusia.
Pada awal abad ke-6 filsafat berhenti untuk waktu yang lama. Segala perkembangan ilmu pada waktu itu terhambat. Hal ini disebabkan karena abad ke-6 dan ke-7 adalah abad-abad yang kacau. Karena pada waktu itu adanya perpindahan bangsa-bangsa yang masih belum beradab terhadap kerajaan romawi, sampai kerajaan tersebut runtuh.
Bersama kerajaan itu runtuh, runtuh pula lah peradaban romawi, baik itu yang bukan umat kristiani maupun peradaban kristiani yang di bangun pada abad ke-5 terakhir. Pada perkembangan peradaban yang kacau ini, ada yang berkembang pada peradaban yang baru di bawah pemerintahan Karel Agung ( 742 — 814 ), yang memerintah pada awal abad pertengahan, di eropa terdapat ketenangan di bidang politik.
Pada waktu itulah kebudayaan mulai bangkit, dan bangkitlah ilmu pengetahuan dan kesenian. Juga filsafat mulai di perhatikan. Filsafat abad pertengahan adalah suatu arah pemikiran yang berbeda sekali dengan pemikiran dunia kuno.
Filsafat abad pertengahan menggambarkan suatu zaman yang baru di tengah-tengah suatu perkumpulan bangsa yang baru, yaitu bangsa eropa barat. Filsafat yang baru ini disebut skolastik.
Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas akan pemikiran eropa yang berkembang pada abad tersebut, dan menjadikan suatu kendala yang disesuaikan dengan ajaran agama. Dalam agama kristen, pada abad pertengahan, tentu saja ada kecerdasan logis yang mendukung iman religius. Namun iman sama sekali tidak disamakan dengan mistisisme.
Pada masa pertumbuhan dan perkembangan filsafat eropa ( sekitar lima abad ) belum memunculkan ahli pikir ( filosuf ), akan tetapi setelah abad ke-6 masehi, baru muncul ahli pikir yang mengadakan penyelidikan filsafat. Jadi, filsafat Eropa yang mengawali kelahiran filsafat barat abad pertengahan.
Filsafat barat abad pertengahan ( 476-1492 M ) juga dapat dikatakan sebagai abad gelap, karena pendapat ini didasarkan pada pendekatan gereja. Memang pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia, sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk memiliki untuk mengembangkan potensi yang terdapat pada dirinya dan tidak mempunyai kebebasan berpikir. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran agama Kristen orang tersebut akan dikenakan hukuman berat. Karena itu, kajian terhadap agama ( teologi ) yang tidak berdasarkan ketentuan gereja akan mendapatkan larangan ketat. Yang berhak mengadakan penyelidikan terhadap agama adalah pihak gereja. Walaupun demikian, ada juga yang melanggar larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian diadakan pengejaran ( inkuisisi ). Pengejaran terhadap orang-orang murtad ini mencapai puncaknya pada saat Paus Innocentius III diakhir abad XII, dan yang paling berhasil dalam pengejaran orang-orang murtad ini di Spanyol.
Sedangkan ciri-ciri pemikiran abad pertengahan adalah :
1.      Cara berfilsafat di pimpin oleh orang gereja.
2.      Berfikir dalam lingkungan ajaran Aristoteles.
3.      Berfilsafat dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain.
Secara garis besar, filsafat abad pertengahan dapat dibagi menjadi dua periode yaitu Periode scholastic islam atau zaman skolastik timur, yang diwarnai situasi dalam komunitas Islam di Timur Tengah, abad 8 s/d 12 M dan periode scholastic kristen yang diwarnai oleh perkembangan di Eropa (termasuk jazirah Spanyol).

B. Perumusan Masalah
Dalam makalah yanhg akan kami presentasikan ini, kami membagi beberapa sub yang membahas tentang filsafat abad pertengahan yaitu :
a)      Keadaan pada permulaan abad pertengahan
b)      Beberapa filosof pada abad pertengahan
c)      Pemikiran para filosof abad pertengahan

C. Tujuan
Ada beberapa tujuan dari makalah yang kami tulus ini, antara lain :
a)      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum.
b)      Untuk memahami pemikiran pada abad pertengahan.
c)      Sebagai bahan presentasi dalam diskusi tatap muka mata kuliah Filsafat Umum.
d)     Sebagai bahan bacaan bagi yang berkenan membacanya.

























Bab II
Filsafat Pada Masa Pertengahan

Permulaan  abad pertengahan dapat dimulai sejak  Platinus. Pada Plotinus  pengaruh agama Kristen kelihatannya sudah besar : Filsafatnya berwatak spritual. Plotinus (204-270 SM) Thales (624-546) digelari  sebagai filosof pertama karena ia mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar apa bahan alam semesta ini ? Thales   menjawab  air. Jawaban yang tidak memuaskan.

  1. Platinus ( 204-270 )
Platinus dilahirkan  pada tahun 204 di Mesir didaerah Ycopolis. Pada tahun 232 ia pergi  Alexandria untuk belajar  filsafat pada seorang guru bernama Animonius Soccas, selama 11 tahun.
A. Tentang Ilmu
Platinus  dapat disebut  musuh naturalisme  ia membedakan dengan tegas  tubuh dan jiwa, jiwa tidak dapat  diterjemahkan kedalam ukuran-ukuran badaniah, fakta alam harus dipahami sesuai dengan tendensi spiritualnya.
B. Bersatu dengan Tuhan
Tujuan filsafat ialah tercapainya kebersatuan  dengan Tuhan. Caranya ialah  pertama-tama dengan  mengenal  alam melalui  alat indera, dengan ini  kita melihat  keagungan Tuhan kemudian  kita menuju jiwa dunia,setelah itu  menuju jiwa Illahi.

  1. Augustinus ( 354-430 )
Augustinus lahir di Tagaste, Aljazair, Afrika Utara, 13 November 354 M sebagai putra seorang ibu yang saleh yaitu Momika*. Ayahnya bernama Patricius, seorang tuan tanah kecil dan anggota dewan kota yang kurang taat beragama hingga menjelang akhir hayatnya. Augustinus dididik dan dibesarkan secara Kristen kendatipun karena adat istiadat yang berlaku pada masa itu, ia tidak dibaptiskan ketika masih bayi**
                                                                                                                                                  
* (Heukem, 1991: 61)
** (Purnomo, 2000: 169).
Augustinus menganggap filsafat sebagai suatu aktivitas, yang meliputi teknik-teknik penalaran, dan juga suatu pendekatan menuju kebijaksanaan dan kebenaran-kebenaran penalaran, dan juga suatu pendekatan menuju kebijaksanaan dan kebenaran-kebenaran tertinggi tentang kehidupan. Dengan mengikuti Augustinus, yang mempertahankan bahwa tidak mungkin ciptaan-ciptaan sama kekal (co-eternal) dengan pencipta. Aliran Augustinus menolak kemungkinan penciptaan dari kekekalan (creatio ab qetermo). Augustinus mempertahankan bahwa kesatuan jiwa dengan Allah adalah terutama melalui kehendak***.
Adapun sifat-sfat pokok dari ajaran filsafat****adalah sebagai berikut :
a)      Mengakui manusia dengan kepercayaan dan agama tidak boleh dipisahkan. Tanpa kepercayaan dari agama, manusia akan sesak, dan tanpa akal, orang tak akan memperoleh pengertian yang jelas tentang kepercayaan dan agama itu.
b)      Kehendak manusia berpangkal diatas akal dan cinta kasih sayang mempunyai arti kesucian diatas ilmu pengetahuan. Juga berlaku terhadap Tuhan, sedang Tuhan terutama berarti cinta kasih sayang.
c)      Roh/jiwa agak bebas terhadap raga dan jiwa mengenal dirinya secara langsung dan intuistif, yang terdiri atas kebendaan dan bentuk
d)     Spiritualisme yang antropologis (jiwa itu tak lain dari manusia itu sendiri) berjalan berdampingan dengan spiritualisme yang bersifat teori mengenal.
e)      Kebendaan itu pada hakikatnya cahaya. Bahwa jiwa menghendaki tubuh dan tubuh menghendaki jiwa merupakan pandangan yang dualistis.
Filsafat Kristen  yang banyak mendominasi  abad pertengahan  banyak berhutang  pada pola-pola  pemikiran Yunani dan Romawi.
Augustinus  dianggap  telah meletakan  dasar-dasar  pemikiran  abad pertengahan, mengadaptasikan  platonisme kedalam  ide-ide Kristen, memberikan formulasi sistematis tentang filsafat Kristen. Filsafat Augustinus merupakan sumber atau asal-usul reformasi yang dilakukan  oleh Protestan.
                                                                                                                                               
***(Bagus, 1996: 24-26)
****( menurut Salam 2000:49)


  1. Amselmus ( 1033-1109 )
Anselmus dilahirkan di Italia utara pada tahun 1033. Ketika usianya lima belas tahun, Anselmus mencoba masuk biara di Italia. Tetapi, ayahnya menentangnya. Kemudian Anselmus jatuh sakit. Tak lama sesudah ia sembuh, ibunya meninggal dunia. Anselmus masih muda, ia juga kaya dan pandai. Ia berasal  dari keluarga bangsawan di Aorta, Italia, pada tahun  1033. seluruh kehidupannya  dipenuhi  oleh kepatuhan  kepada gereja pada tahun 1093 ia menjadi uskup agung canter bury dan ikut ambil bagian dalam perselisihan antara golongan  pendeta dan orang-orang sekuler.
Umat Inggris mengasihi dan menghormati Anselmus. Tetapi, Raja William II menganiayanya. Anselmus harus melarikan diri dalam pengasingan pada tahun 1097 dan juga tahun 1103. Raja William bahkan melarang Anselmus pergi ke Roma untuk memohon nasehat Paus. Walaupun demikian, Anselmus pergi juga. Ia tinggal bersama paus hingga raja mangkat. Kemudian, ia kembali ke keuskupannya di Inggris.
Anselmus menyempatkan diri untuk menulis. Buah penanya adalah buku-buku filsafat dan teologi yang amat berharga. Ia juga menuliskan banyak nasehat berguna mengenai Tuhan bagi para biarawan. Para biarawan itu amat gembira menerimanya. St. Anselmus sering mengatakan, “Apakah kamu ingin tahu rahasia hidup bahagia dalam biara? Lupakan dunia dan bergembiralah melupakannya. Biara sungguh merupakan surga di bumi bagi mereka yang hidup hanya bagi Yesus.” St. Anselmus wafat pada tanggal 21 April 1109. Ia dinyatakan sebagai Pujangga atau Doktor Gereja oleh Paus Klemens XI pada tahun 1720.
  1. Thomas Aquinas ( 1225-1274 )
Thomas Aquinas lahir di Aquino, Italia sehingga disebut Thomas dari Aquino adalah seorang filsuf dan ahli teologi ternama dari Italia.
Thomas mengajarkan Allah sebagai ”ada yang tak terbatas” (ipsum esse subsistens). Allah adalah ”Dzat Yang Tertinggi”, yang memunyai keadaan yang paling tinggi. Allah adalah penggerak yang tidak bergerak. Tampak sekali pengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya. Dunia ini dan hidup manusia terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati).
Metode untuk menghubungkan iman dan rasio yang pertama dibahas adalah filsafat Thomistik Gereja Roma Katolik. Selain persetujuan (assent) pribadi orang percaya, dalam system ini iman artinya informasi yang diwahyukan yang ada dalam Alkitab, tradisi, dan suara hidup dari gereja Roma sedangkan Akal budi artinya informasi yang dapat diperoleh melalui pengamatan inderawi terhadap alam dan diinterpretasi intelek. Rasionalis abad ketujuhbelas membedakan akal budi (reason) dengan sensasi [inderawi], Thomas membedakan akal budi (reason) dan wahyu. Kebenaran akal budi adalah kebenaran yang dapat diperoleh melalui kemampuan indera dan intelek alamiah manusia tanpa bantuan anugerah supranatural.
Thomisme memang menekankan ketiadaan kompatibilitas antara iman dan rasio, namun ketiadaan kompatibilitas itu bersifat psikologis semata. Namun, menurut Thomisme adalah memungkinkan untuk mendemonstrasikan keberadaan Allah melalui pengamatan terhadap alam.
Ia terutama menjadi terkenal karena dapat membuat sintesis dari filsafat Aristoteles dan ajaran Gereja Kristen. Sintesisnya ini termuat dalam karya utamanya: Summa Theologiae (1273). Ia disebut sebagai ”Ahli teologi utama orang Kristen.” Bahkan ia dianggap sebagai orang suci oleh Gereja Katholik dan memiliki gelar santo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar